- • Menonton konten perang berjam-jam dapat memicu kecemasan, rasa takut, hingga gejala trauma psikologis.
- • Bahkan, masifnya seseorang melihat dan mengonsumsi konten soal Covid 19 terbukti membuat kecemasan dan tingkat stres meningkat.
- • Perkembangan media digital dan media sosial mempercepat penyebaran gambar kekerasan dan memunculkan lebih banyak kasus kecemasan.
INFORMASI.COM, Jakarta - Perang berkecamuk lagi. Kali ini, perang besar terjadi antara Amerika Serikat berpasangan dengan Israel yang melawan Iran.
Konten-konten ledakan bom, peluru kendali yang terbang, kerusakan pasca ledakan, hingga korban bergelimpangan memenuhi ruang media konvensional seperti televisi maupun media sosial di internet.
Parahnya, algoritma platform media sosial berulang-ulang menyajikan konten perang yang penuh emosi. Mau tak mau, banyak pengguna yang terpapar konten perang, bahkan ikut memproduksi ulang konten yang mirip.
Jika tidak disadari secara penuh, paparan berulang konten perang yang ditonton ternyata dapat memicu gangguan psikologis pada netizen.
Sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa konsumsi gambar kekerasan secara terus-menerus melalui televisi maupun media sosial meningkatkan risiko kecemasan, ketakutan, dan tekanan mental.
Penelitian psikologi media menyebutkan bahwa individu yang terus menerus menonton konten kekerasan memiliki kecenderungan mengalami stres emosional yang lebih tinggi, meskipun mereka tidak berada di wilayah konflik.
Studi Setelah Serangan 11 September
Penelitian yang sering dijadikan rujukan adalah studi berjudul “Television Exposure and Psychological Trauma After the September 11 Attacks” yang dipublikasikan pada 2001 oleh tim peneliti yang dipimpin oleh Roxane Cohen Silver dari University of California, Irvine.
Penelitian tersebut meneliti ribuan responden di Amerika Serikat setelah serangan 11 September 2001.
Para peneliti menemukan bahwa individu yang menonton tayangan serangan secara berulang di televisi mengalami gejala stres akut yang signifikan.
Roxane Cohen Silver menyatakan bahwa paparan media yang intens terhadap peristiwa traumatis dapat memicu dampak psikologis yang luas.
“Paparan berulang terhadap gambar media yang bersifat grafis dapat memperkuat respons stres bahkan pada individu yang berada jauh dari lokasi bencana,” kata Roxane dalam penelitian itu.
Kekerasan Visual dan Trauma Sekunder
Studi lain berjudul “Media Exposure to Collective Trauma and Mental Health” yang dipublikasikan pada 2014 oleh E. Alison Holman, Dana Rose Garfin, dan Roxane Cohen Silver di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) juga menyoroti dampak paparan gambar kekerasan.
Penelitian tersebut menganalisis dampak tayangan tragedi pengeboman Boston Marathon 2013 terhadap masyarakat Amerika Serikat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang menonton konten di media secara intens justru mengalami tingkat stres lebih tinggi dibandingkan sebagian individu yang berada langsung di lokasi kejadian.
Para peneliti menyatakan bahwa konsumsi media yang berlebihan dapat menciptakan fenomena yang disebut trauma sekunder atau vicarious trauma.
“Paparan media yang berulang terhadap gambar grafis dapat memicu respons stres yang serupa dengan pengalaman trauma secara langsung,” tulis para peneliti.
Bahkan Bisa Stres Gara-gara Konten Covid 19
Penelitian lain dilakukan oleh Dana Rose Garfin, Roxane Cohen Silver, dan E. Alison Holman dalam studi berjudul “The Novel Coronavirus (COVID-19) Outbreak: Amplification of Public Health Consequences by Media Exposure” yang dipublikasikan pada 2020 di jurnal Health Psychology.
Meskipun penelitian tersebut berfokus pada pandemi, para peneliti menemukan pola yang sama pada paparan berita krisis dan konflik.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa konsumsi berita secara berlebihan melalui media dapat memperbesar kecemasan publik dan meningkatkan risiko stres psikologis.
Para peneliti menulis bahwa paparan media yang intens terhadap peristiwa krisis dapat memperkuat persepsi ancaman pada masyarakat.
“Tingkat paparan media yang tinggi selama masa krisis dapat meningkatkan stres akut dan memperbesar persepsi risiko.”
Media Digital Memperluas Dampak Psikologis Konflik
Para peneliti menilai perkembangan media digital dan media sosial mempercepat penyebaran gambar kekerasan dari wilayah konflik ke seluruh dunia.
Berbeda dengan era sebelumnya, masyarakat kini dapat melihat rekaman perang hampir secara real time melalui ponsel dan platform digital.
Kondisi tersebut membuat dampak psikologis konflik tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di wilayah perang, tetapi juga oleh audiens global yang terus menerus terpapar gambar kekerasan.
Sejumlah peneliti menyarankan masyarakat membatasi konsumsi konten konflik dan kekerasan, terutama jika tayangan tersebut memicu rasa takut, cemas, atau tekanan emosional yang berkepanjangan.