30 WNI Tertahan di Abu Dhabi Akhirnya Dipulangkan

30 WNI Tertahan di Abu Dhabi Akhirnya Dipulangkan
Abu Dhabi, Ibu Kota Uni Emirat Arab.
Ikhtisar
  • Sebanyak 30 warga negara Indonesia yang sebelumnya tertahan di Abu Dhabi akhirnya berhasil dipulangkan.
  • Pemulangan ini merupakan hasil koordinasi erat antara perwakilan RI dengan maskapai Etihad Airways serta otoritas setempat di UEA.
  • Para WNI itu menjadi bagian dari ribuan penumpang internasional yang terdampak pembatalan penerbangan setelah pecah perang AS-Israel lawan Iran.

INFORMASI.COM, Jakarta - Sebanyak 30 warga negara Indonesia yang sempat tertahan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, akhirnya menghela napas lega. Mereka sukses diberangkatkan menuju Tanah Air melalui sebuah penerbangan repatriasi yang difasilitasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Abu Dhabi bersama Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Dubai, Kamis (5/3).

Rombongan WNI tersebut diterbangkan dengan maskapai Etihad Airways menuju Singapura, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Indonesia melalui rute lanjutan yang telah diatur. Keberangkatan ini menjadi titik terang setelah mereka sebelumnya terjebak imbas penutupan wilayah udara di sejumlah negara Timur Tengah.

Duta Besar RI untuk Persatuan Emirat Arab (UEA), Judha Nugraha, mengungkapkan bahwa pemulangan ini bukanlah perkara mudah. Pihaknya harus menjalin komunikasi intensif dengan maskapai penerbangan dan otoritas bandara setempat.

"Sejak awal penutupan ruang udara pada 28 Februari, KBRI Abu Dhabi dan KJRI Dubai terus berkoordinasi dengan maskapai dan otoritas setempat agar WNI yang terdampak dapat segera memperoleh akses penerbangan untuk melanjutkan perjalanan ke Tanah Air," ujar Judha di Abu Dhabi, Kamis (5/3/2026).

Menurutnya, dalam situasi kawasan yang masih dinamis, keselamatan WNI menjadi prioritas utama pemerintah. Ia menambahkan bahwa seluruh WNI yang terdampak mendapat pendampingan penuh selama masa tunggu.

"Kami memastikan seluruh WNI yang terdampak mendapatkan pendampingan dan fasilitasi yang diperlukan. Pemerintah hadir untuk memastikan mereka dapat kembali melanjutkan perjalanan dengan aman dan tertib," tegasnya.

Situasi kritis bermula sejak akhir Februari 2026, ketika ketegangan geopolitik meningkat drastis di kawasan Timur Tengah. Akibatnya, sebagian wilayah udara di sejumlah negara, termasuk UEA, ditutup sementara. Penutupan ini langsung melumpuhkan operasional penerbangan internasional di bandara-bandara utama seperti Abu Dhabi, Dubai, dan Doha.

Ribuan penerbangan terpaksa dibatalkan, membuat ratusan ribu penumpang dari berbagai negara terjebak di bandara-bandara transit. Di tengah kekacauan itu, KBRI dan KJRI bergerak cepat mendata WNI yang menjadi korban. Mereka kemudian menjalin komunikasi intensif, memberikan pendampingan konsuler, serta bernegosiasi dengan maskapai untuk mengamankan kursi di tengah keterbatasan.

Hingga saat ini, jalur penerbangan di UEA memang belum sepenuhnya pulih. Operasional masih sangat terbatas dan penerbangan sipil komersial reguler belum diizinkan beroperasi penuh. Penerbangan yang dijalankan saat ini hanya untuk keperluan repatriasi dan penerbangan khusus guna memobilisasi sekitar 20.000 pengunjung yang sempat tertahan di UEA.

Para WNI tersebut akhirnya bisa terbang setelah nama-nama mereka masuk dalam daftar prioritas berkat koordinasi KBRI. Pemerintah Indonesia, melalui perwakilan diplomatiknya, berjanji akan terus memantau perkembangan situasi keamanan di kawasan. Mereka juga memastikan tidak ada WNI yang terlantar tanpa pendampingan selama proses krisis ini berlangsung.

KBRI Abu Dhabi pun mengimbau kepada seluruh WNI yang masih berada di wilayah UEA dan membutuhkan bantuan, agar segera menghubungi hotline kedutaan atau melapor melalui kanal resmi untuk mendapatkan fasilitasi lebih lanjut sesuai kebutuhan.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.