Berani Lawan Trump soal Perang Iran, Spanyol Siap Hadapi Ancaman Embargo AS

Berani Lawan Trump soal Perang Iran, Spanyol Siap Hadapi Ancaman Embargo AS
Pedro Sanchez, Perdana Menteri Spanyol, dalam pidato membalas ucapan Donald Trump di Madrid, Rabu (4/3/2026).
Ikhtisar
  • Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez secara terbuka menolak keterlibatan negaranya dalam serangan militer AS-Israel ke Iran.
  • Ia tetap melarang penggunaan pangkalan militer di wilayahnya untuk operasi ofensif AS terhadap Iran. Spanyol tidak akan terlibat perang, kata PM Spanyol.
  • Pedro Sánchez siap dengan konsekuensi ancaman embargo ekonomi oleh AS yang dipicu kemarahan Trump.

INFORMASI.COM, Jakarta - Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Spanyol memanas setelah Perdana Menteri Pedro Sánchez memilih berseberangan dengan Presiden Donald Trump soal perang di Iran.

Alih-alih tunduk pada tekanan, Sánchez justru menggandakan taruhan politiknya dengan menyerukan gerakan "tidak untuk perang" yang mengingatkan pada masa invasi Irak dua dekade lalu.

Ketegangan bermula ketika Washington meminta izin menggunakan dua pangkalan militer bersama di Rota dan Moron untuk melancarkan serangan ofensif terhadap Iran.

Pemerintah Spanyol menolak mentah-mentah. Madrid bersikeras bahwa setiap operasi dari pangkalannya harus terbatas pada bantuan kemanusiaan dan tunduk pada hukum internasional.

Data radar menunjukkan, setelah penolakan itu, sejumlah pesawat AS ditarik dari pangkalan-pangkalan tersebut.

Reaksi Trump tidak main-main. Dari Gedung Putih, Selasa (3/3/2026) waktu setempat, ia melontarkan ancaman keras saat bertemu Kanselir Jerman Friedrich Merz.

"Spanyol sangat buruk," kata Trump kepada wartawan dalam pertemuan dengan Kanselir Jerman, Selasa (4/3/2026).

"Kami akan memutus semua perdagangan dengan Spanyol. Kami tidak ingin berhubungan dengan Spanyol," cetus pemimpin AS itu.

Merz yang berada di samping Trump dilaporkan memilih bungkam saat ancaman itu dilontarkan.

Balasan Telak Spanyol

Spanyol tidak tinggal diam. Pada Rabu (4/3/2026) pukul 09.00 waktu setempat, Sánchez akhirnya muncul di depan kamera televisi. Ia menyampaikan "declaración institucional"—pernyataan resmi yang biasanya disimpan untuk momen-momen sakral.

"Posisi pemerintah Spanyol dapat diringkas dalam empat kata: tidak untuk perang," tegas Sánchez dalam pidato yang disiarkan langsung di televisi Spanyol.

Ia merujuk pada pengalaman pahit invasi Irak 2003 yang dipimpin AS.

"Pada 2003, beberapa pemimpin yang tidak bertanggung jawab menyeret kita ke dalam perang ilegal di Timur Tengah. Perang itu tidak membawa apa-apa selain ketidakamanan dan penderitaan," katanya.

"Tidak untuk pelanggaran hukum internasional. Tidak untuk ilusi bahwa kita bisa menyelesaikan masalah dunia dengan bom. Tidak untuk mengulangi kesalahan masa lalu. Tidak untuk perang," lanjutnya.

Sánchez juga menepis anggapan bahwa pemerintahannya tunduk pada tekanan asing.

"Kami tidak akan terlibat dalam sesuatu yang merugikan dunia dan bertentangan dengan nilai-nilai dan kepentingan kami, hanya karena takut akan pembalasan," ujarnya.

Ia bahkan mengklaim bahwa pendirian Spanyol mendapat angin segar dari berbagai pihak.

"Kami menentang bencana ini. Pendirian ini didukung oleh banyak pemerintah lain dan jutaan warga di seluruh Eropa, Amerika Utara, dan Timur Tengah yang tidak menginginkan lebih banyak perang atau ketidakpastian di masa depan," kata PM Spanyol.

Sumber-sumber di lingkungan pemerintah Madrid mulai memberi isyarat bahwa jika Washington benar-benar memutus hubungan dagang secara sepihak, AS harus melakukannya sesuai dengan hukum internasional dan ketentuan perdagangan Uni Eropa-AS. 

Analisis

Langkah itu disebut sebagai pertaruhan politik yang berani namun penuh risiko.

Sánchez dinilai tengah berusaha membangkitkan kembali semangat progresif di dalam negeri. sekaligus menempatkan diri sebagai pemimpin kiri global di tengah gelombang politik kanan yang dipengaruhi gerakan MAGA (Make America Great Again).

Ia disebut tengah membidik momen ala Dominique de Villepin, mantan Menteri Luar Negeri Prancis yang vokal menentang perang Irak pada 2003, yang memperingatkan konsekuensi buruk dari intervensi militer yang tidak legitimate.

Di balik keberanian itu, para pengamat mencatat sejumlah risiko yang mengintai. Spanyol berpotensi terisolasi secara diplomatik jika konsensus Eropa justru berbeda.

Ancaman perang dagang dengan AS bisa menghantam perusahaan-perusahaan Spanyol yang memiliki eksposur besar di pasar Amerika. Kerja sama intelijen yang selama ini berjalan juga berpotensi terganggu jika Washington memilih mempersenjatai informasi untuk kepentingan nasionalnya.

Namun, setidaknya untuk saat ini, Sánchez memilih tetap pada pendiriannya. Ia menilai momen ini bisa menjadi penegas identitas kepemimpinannya di panggung global, di tengah meredupnya suara partai-partai kiri di Eropa.

Seperti Villepin pada 2003, Sánchez kini menjadi Cassandra yang memperingatkan dunia tentang bahaya perang yang tidak tidak jelas tujuannya.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.