- • Harga bensin dan solar di Amerika Serikat melonjak lebih dari 10 persen dalam sepekan akibat lonjakan harga minyak dunia.
- • Konflik AS-Israel dengan Iran membatasi ekspor energi dan mendorong harga minyak menembus US$90 per barel.
- • Kenaikan harga bahan bakar ini berpotensi menjadi ujian politik bagi Presiden Donald Trump menjelang pemilu paruh waktu.
INFORMASI.COM, Jakarta - Harga bahan bakar di Amerika Serikat mengalami lonjakan tajam dalam sepekan terakhir seiring kenaikan harga minyak global yang dipicu konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kenaikan tersebut terjadi di tengah pembatasan ekspor minyak dan bahan bakar dari kawasan Timur Tengah.
Dikutip dari Reuters, Sabtu (7/3/2026), harga bahan bakar di AS naik lebih dari 10 persen dalam sepekan terakhir setelah harga minyak dunia menembus level di atas US$90 per barel. Lonjakan tersebut menjadi salah satu kenaikan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan menambah tekanan bagi konsumen yang masih menghadapi inflasi.
Data dari asosiasi pengendara AAA, Jumat (6/3/2026), menunjukkan harga rata-rata nasional bensin reguler mencapai US$3,32 per galon (1 galon sama dengan 3,8 liter), atau jika dirupiahkan kira-kira Rp14.800 per liter. Angka tersebut naik sekitar 11 persen dibandingkan pekan sebelumnya dan menjadi level tertinggi sejak September 2024.
Sementara itu, harga solar eceran mencapai US$4,33 per galon, atau Rp19.200 per liter. Harga tersebut naik sekitar 15 persen dalam sepekan dan menjadi yang tertinggi sejak November 2023.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menanggapi kenaikan harga bahan bakar tersebut dalam wawancara dengan Reuters. Ia menepis kekhawatiran terkait lonjakan harga energi.
"Jika mereka (BBM) naik, mereka naik," kata Trump.
Sebelumnya, Trump berjanji akan menurunkan harga energi dan meningkatkan aktivitas pengeboran minyak serta gas di Amerika Serikat selama masa jabatan keduanya. Namun, masa pemerintahannya juga diwarnai volatilitas pasar energi akibat berbagai kebijakan ekonomi dan ketegangan geopolitik global.
Amerika Serikat saat ini merupakan produsen minyak terbesar di dunia. Negara tersebut juga menjadi eksportir utama energi, meskipun tetap mengimpor jutaan barel minyak setiap hari karena kebutuhan konsumsi domestik yang sangat besar.
Kenaikan harga bahan bakar paling terasa di sejumlah wilayah Midwest dan Selatan yang dikenal sebagai basis dukungan politik Trump. Sejak konflik Iran memanas, pengendara di wilayah tersebut mengalami lonjakan harga paling tajam.
Di negara bagian Georgia, yang sering menjadi penentu dalam pemilu nasional, harga rata-rata bensin eceran naik sekitar 40,1 sen per galon dalam sepekan terakhir. Data tersebut dilaporkan oleh situs pelacak harga bahan bakar GasBuddy.
Seorang pekerja asuransi kesehatan di South Fulton, Georgia, Andrenna McDaniel, mengaku terkejut melihat lonjakan harga yang terjadi secara tiba-tiba.
"Mereka langsung berubah pikiran begitu cepat," katanya.
McDaniel juga menyatakan tidak setuju dengan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ia mengatakan kenaikan harga bahan bakar membuatnya membatasi perjalanan.
Ia mengaku saat ini hanya mengemudi untuk kebutuhan paling penting. Ia juga merasa beruntung karena pekerjaannya memungkinkan bekerja dari rumah sehingga tidak perlu sering menggunakan kendaraan.
Selain Georgia, beberapa negara bagian lain juga mengalami kenaikan harga signifikan. Indiana mencatat kenaikan harga bensin sebesar 44,3 sen per galon, sedangkan West Virginia mengalami kenaikan sekitar 43,9 sen.
Para analis energi memperkirakan tekanan harga masih akan berlanjut jika harga minyak global terus meningkat. Pada Jumat, harga minyak berjangka Amerika Serikat ditutup pada US$90,90 per barel. Angka tersebut naik hampir US$10 dalam sehari dan menjadi kenaikan harian terbesar sejak April 2020.
Analis GasBuddy Patrick De Haan mengatakan kenaikan harga bensin kemungkinan masih berlanjut dalam beberapa hari ke depan jika gangguan pasokan energi tetap terjadi.
"Mengingat kondisi pasar saat ini, harga rata-rata bensin nasional bisa naik hingga US$3,50 hingga US$3,70 per galon dalam beberapa hari mendatang jika harga minyak terus naik dan gangguan pasokan berlanjut," kata Patrick De Haan.
Gangguan pasokan energi di Timur Tengah, termasuk di jalur perdagangan strategis Selat Hormuz, turut meningkatkan permintaan minyak Amerika Serikat di pasar global. Kondisi tersebut pada akhirnya ikut mendorong kenaikan harga bagi kilang minyak di dalam negeri.
Kepala analis minyak di OPIS Denton Cinquegrana menjelaskan bahwa permintaan minyak ekspor Amerika meningkat karena banyak kilang di Asia dan Eropa masih bergantung pada minyak dari Timur Tengah.
"AS telah melepaskan diri dari ketergantungannya pada minyak mentah Timur Tengah. Tapi kilang-kilang di Asia, dan sampai batas tertentu, kilang-kilang di Eropa, belum. Itulah yang Anda lihat terjadi di pasar spot, karena permintaan ekspor AS meningkat, dan karenanya harga pun naik," kata Denton Cinquegrana.
Selain faktor geopolitik, tekanan harga bahan bakar juga berpotensi meningkat karena faktor musiman. Harga bensin di Amerika Serikat biasanya mulai naik pada musim semi dan mencapai puncaknya pada musim panas seiring meningkatnya permintaan perjalanan serta produksi bensin campuran musim panas yang lebih mahal.