Harga Minyak Tembus USD84 per Barel akibat Perang AS-Iran, Dunia Makin Panik

Harga Minyak Tembus USD84 per Barel akibat Perang AS-Iran, Dunia Makin Panik
Ilustrasi Selat Hormuz dan kapal tanker minyak, dibuat menggunakan model AI ChatGPT
Ikhtisar
  • Harga minyak Brent bertengger di US$84,22 per barel dan WTI di US$79,49 per barel pada Jumat (6/3/2026).
  • Gangguan di Selat Hormuz akibat perang AS-Israel melawan Iran membuat lalu lintas tanker minyak lumpuh.
  • Irak memangkas produksi hingga 1,5 juta barel per hari dan Qatar menyatakan force majeure ekspor gas.

INFORMASI.COM, Jakarta - Asap perang yang membubung di langit Timur Tengah seolah merambat hingga ke ruang perdagangan minyak dunia.

Harga komoditas energi itu kembali menunjukkan taringnya pada Jumat (6/3/2026) pagi, meski sedikit terkoreksi setelah sehari sebelumnya mencapai puncak tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir.

Berdasarkan data Refinitif, pukul 10.00 WIB, minyak mentah berjangka Brent patokan global diperdagangkan di level US$84,22 per barel. Sementara patokan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), berada di US$79,49 per barel.

Angka ini sedikit melandai dibanding penutupan perdagangan Kamis (5/3) yang menyentuh US$85,41 untuk Brent dan US$81,01 untuk WTI, level yang belum pernah terjadi sejak Juli 2024 .

Lonjakan harga tersebut bukan tanpa sebab. Eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sejak 28 Februari lalu telah menciptakan gelombang kejut di pasar energi global. Jalur distribusi utama minyak dunia, Selat Hormuz, nyaris lumpuh total.

"Penutupan jalur tersebut dapat membuat harga minyak terus merangkak naik," ujar John Kilduff, mitra di Again Capital, kepada Reuters, Kamis (5/3).

Menurutnya, penghentian produksi di beberapa negara produsen akan memperpanjang waktu pemulihan pasokan karena produksi minyak tidak bisa langsung kembali ke kapasitas penuh .

Selat Hormuz, Titik Cekik Ekonomi Dunia yang Tercekik

Gangguan di Selat Hormuz bukan persoalan sepele. Jalur pelayaran sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab ini adalah urat nadi perdagangan energi global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan sejumlah besar gas alam cair (LNG) melaluinya setiap hari .

Data pelacakan kapal menunjukkan sekitar 300 tanker minyak masih terjebak di dalam Selat Hormuz karena lalu lintas kapal hampir berhenti sejak perang pecah . Analis JP Morgan memperkirakan sekitar 329 kapal tanker minyak tertahan di kawasan Teluk .

Akibatnya, negara-negara produsen di kawasan mulai merasakan dampaknya. Irak, produsen minyak terbesar kedua di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), dilaporkan memangkas produksinya hingga sekitar 1,5 juta barel per hari. Pemangkasan ini terjadi akibat keterbatasan fasilitas penyimpanan dan jalur ekspor yang terhambat .

"Harga minyak mentah akan sangat sensitif terhadap penutupan Selat tersebut karena pada akhirnya produksi di daerah pengekspor akan melambat," kata Dennis Kissler, Vice President BOK Financial.

Ia menambahkan bahwa jika kondisi ini berlanjut hingga minggu depan, dimulainya kembali produksi dan perbaikan pengiriman setelah Selat dibuka kembali juga akan membutuhkan waktu .

Tak hanya minyak, sektor gas ikut terpukul. Qatar, produsen LNG terbesar di kawasan Teluk, terpaksa menyatakan force majeure terhadap ekspor gasnya sejak Rabu (4/3). Sumber industri menyebutkan pemulihan produksi ke tingkat normal diperkirakan membutuhkan waktu setidaknya satu bulan .

Dampak Berantai: Kilang Tutup, Pasokan Bahan Bakar Mengetat

Tekanan pasokan tidak berhenti di hulu. Sejumlah kilang minyak di Timur Tengah, serta di China dan India, dilaporkan menghentikan sementara unit pengolahan minyak akibat konflik . Kedua negara tersebut sangat bergantung pada impor minyak dari kawasan Timur Tengah .

Kekhawatiran akan kelangkaan pasokan bahan bakar pun merebak. Kontrak berjangka diesel Eropa melonjak ke level tertinggi sejak Oktober 2022, yakni mencapai US$ 1.130 . Di Amerika Serikat, kontrak berjangka minyak solar ikut melejit sekitar 10 persen dan sempat menembus US$3,60 per galon dalam sesi perdagangan .

Potensi Tembus US$100 dan Tekanan ke Asia

Para analis semakin lantang memperingatkan potensi kenaikan harga lebih lanjut. Tim komoditas Barclays Bank Plc memperingatkan harga minyak mentah Brent bisa menembus level US$ 100 per barel apabila konflik semakin meluas.

Mantan Menteri Energi AS, Ernest Moniz, juga menyampaikan pandangan serupa. Ia mengatakan kepada Bloomberg Television bahwa jika Selat Hormuz tetap ditutup selama berminggu-minggu, harga minyak bisa merangkak naik ke "tiga digit."

Goldman Sachs Group Inc juga mengingatkan bahwa penutupan jalur air yang berkepanjangan dapat menaikkan harga minyak jauh lebih tinggi.

"Ada kemungkinan kita akan melihat harga Brent melampaui ambang batas US$ 100 per barel," kata Samantha Dart, salah satu kepala riset komoditas global di Goldman Sachs Inc.

Respons Pemerintah dan Langkah Antisipasi

Di tengah ketidakpastian yang membayangi, pemerintah Indonesia mulai bergerak. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa konflik tersebut berpotensi mengganggu rantai pasok minyak dunia. Pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi melalui diversifikasi sumber pasokan minyak dari luar kawasan Timur Tengah.

“Pemerintah sudah punya MoU untuk mendapatkan supply dari non middle east. Misalnya kemarin Pertamina sudah bikin MoU dengan Amerika beberapa, dengan Chevron, dengan Exxon, dan yang lain,” ungkap Airlangga di Kantornya, Senin (2/3).

Airlangga juga menyebut bahwa pemerintah akan terus memantau perkembangan konflik dan dampaknya terhadap kinerja ekspor nasional. “Ya kalau negara tergantung juga berapa lama. Balik lagi kita monitor aja bahwa perang ini lama atau perang 12 hari atau perang berapa jauh,” tandasnya .

Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat disebut tengah mempertimbangkan berbagai langkah untuk menahan kenaikan harga energi. Menteri Dalam Negeri AS, Doug Burgum, mengatakan administrasi sedang mempertimbangkan beberapa opsi, termasuk kemungkinan pelepasan cadangan minyak strategis (Strategic Petroleum Reserve). Namun, para pejabat belum bergerak untuk menggunakan stok darurat tersebut.

Di Asia, langkah antisipatif juga mulai terlihat. China dilaporkan telah meminta kilang-kilang besar untuk menangguhkan ekspor diesel dan bensin guna memprioritaskan pasokan domestik. Sementara itu, Jepang mendesak pemerintahnya untuk melepaskan minyak dari cadangan strategis.

Dengan situasi geopolitik yang masih memanas dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda, volatilitas harga minyak diperkirakan akan tetap tinggi dalam waktu dekat.

Pelaku pasar kini hanya bisa menunggu dan mencermati setiap perkembangan di kawasan Timur Tengah, sambil bersiap menghadapi kemungkinan terburuk: harga energi yang terus melambung.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.