- • Bitcoin kembali melesat di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran sejak 28 Februari 2026.
- • Harga BTC diperdagangkan di atas US$71.000 dan sempat menyentuh US$73.684 pada sepekan terakhir.
- • Pasar mencatat pergeseran likuiditas dari kawasan konflik ke aset kripto, sementara harga emas terkoreksi 5,37% karena aksi ambil untung.
INFORMASI.COM, Jakarta - Di tengah kepulan asap perang yang membubung di Timur Tengah, layar monitor perdagangan aset kripto justru memancarkan warna hijau terang. Bitcoin (BTC), raja dari mata uang digital, sukses menapaki level psikologisnya kembali. Pada perdagangan Jumat (06/03/2026) pagi WIB, BTC sudah bertengger di atas US$71.000, melanjutkan reli yang telah berlangsung selama lima hari beruntun.
Eskalasi konflik bersenjata di kawasan Teluk menjadi katalis utama pergerakan ini. Bitcoin bahkan sempat melesat 7,7% ke posisi US$73.684,63 pada Rabu waktu setempat, sebuah lompatan yang mengagetkan banyak analis.
Pemicu awalnya memang ironis. Saat konflik pecah pada 28 Februari lalu, BTC justru terjun bebas mendekati level US$63.000. Namun, kekhawatiran itu hanya bertahan sebentar.
Kini, setelah lima hari serangan berturut-turut dilancarkan, Bitcoin malah mencatatkan kenaikan lebih dari 11% sejak operasi militer pertama dimulai.
Situasi ketidakpastian ini, menurut catatan para analis, mendorong sebagian masyarakat dan entitas mencari alternatif instrumen penyimpan nilai (store of value) yang likuid dan dapat diakses dengan cepat.
Yang menarik, aksi beli Bitcoin ini berjalan beriringan dengan koreksi harga emas.
Logam mulia yang selama ini menjadi primadona safe haven justru tertekan aksi ambil untung. Emas kini bertengger di level US$5.130, atau terkoreksi 5,37% sejak perang meletus. Fenomena ini memberikan indikasi bahwa Bitcoin mulai difungsikan sebagai safe haven alternatif oleh pelaku pasar di wilayah konflik, terutama karena kemudahan dalam proses transfer aset.
Reli Bitcoin ini tidak berjalan sendiri. Ethereum (ETH) ikut melompat 8,3%, diikuti Solana (SOL) yang naik 7,4%, dan BNB yang menguat 3,7%. Gelombang hijau ini menyapu hampir seluruh papan perdagangan kripto.
Markus Thielen, kepala riset di 10x Research, melihat pergerakan ini sebagai sinyal berbedanya sentimen pasar. Jika biasanya konflik geopolitik memicu aksi jual aset berisiko, kali lain tidak demikian.
"Trader umumnya tidak memperkirakan konflik Iran akan menimbulkan konsekuensi ekonomi negatif yang besar, dan permintaan untuk opsi beli (upside calls) Bitcoin jelas meningkat dalam beberapa hari terakhir," ujar Thielen kepada Bloomberg, baru-baru ini.
Optimisme pasar juga tercermin dari membaiknya Crypto Fear and Greed Index. Indeks yang sempat terperosok ke zona "ketakutan ekstrem" saat kejatuhan Bitcoin di Februari itu kini berangsur pulih.
Indikator ini mengonfirmasi bahwa investor mulai berani kembali masuk ke aset kripto, berbeda dengan situasi sebulan lalu yang diwarnai ketidakpastian terkait penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan ancaman Donald Trump atas Greenland.
Meski reli pekan ini cukup impresif, catatan historis menunjukkan Bitcoin masih terkoreksi 16,3% sejak awal tahun. Para analis memperingatkan bahwa volatilitas masih akan menjadi sahabat setia aset kripto di tengah ketidakpastian geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.